Friday, April 27, 2007

All of sudden, I miss seafood. I want to return to here someday, when the rainy days are over. Wanna join? I need someone to share the cost with.

Wednesday, April 25, 2007

Ketika kecelakaan transportasi (kereta, pesawat, etc..) terus terjadi, reaksi pemerintah masih sebatas bela sungkawa dan inspeksi sekedarnya. Ketika pemerintah Amerika menghimbau warganya untuk tidak menggunakan jasa airlines Indonesia mengingat track recordnya yang tambah turun belakangan ini, barulah semuanya kebakaran jenggot dan mendadak rajin inspeksi ke bandar udara.


Dan seperti biasa, semua action di atas sifatnya sementara dan sekedar lips service. Omong-omong soal airlines ini saya koq masih sering melihat penumpang yang:
1. Menelepon dengan volume yang bisa didengar orang sekelurahan saat roda pesawat baru menyentuh landasan, "Halo? Pak? Udah sampe!! Jemput ya!!!!"
2. Lari terbirit-birit mendahului penumpang lain saat menuju pesawat. Maksudnya mungkin supaya bisa dapat posisi wuenak. Lantas apa gunanya nomor kursi? *kecuali air asia mungkin*
3. Menyerobot antrian check-in diikuti kakek, nenek, keponakan, oom, tante dan tiga trolley penuh koper guede plus beberapa dus indomie yang diikat tali rafia hijau.
4. Bediri di gang pesawat saat pesawat sedang parkir dengan menenteng satu tas dan satu koper kecil. Jika dilihat gelagatnya sih, begitu pintu dibuka, niatnya mau terjun ke bawah.
Saya pernah bertengkar sengit dengan salah satu member di sebuah komunitas maya. Masalahnya sepele, dia ngotot kalau 3-in-1 adalah solusi terbaik -best of the best- buat ngatasin macet Jakarta. Disodorkan fakta kalau area 3-in-1 tetap saja macet, tetap keukuh. Dikasih tahu kalau sebagai imbasnya area non 3-in-1 jadi lebih macet lagi, semakin keukuh ngototnya. Pokoknya 3-in-1, titik. Haah!


Dan diskusi (kalau bisa disebut diskusi) jadi semakin konyol ketika dia berpendapat kalau space yang ditempati satu land cruiser di jalan bisa diisi dua karimun, jadi mobil besar adalah penyebab macet dan mari kita ramai-ramai naik mobil kecil. Sementara kenyataannya di lapangan ukuran mobil hanya berpengaruh pada ruang gerak yang diperlukan untuk manuver tapi tidak pada tingkat kepadatan di jalan. Untuk itu jumlah kendaraan yang berkumpul di satu area justru menyumbang poin terbanyak. Jadi pernyataannya malah kontradiktif pada solusi yang dicari.


Semakin parah karena bukannya membalas dengan argumen yang masuk akal dengan didukung data, ia malah melakukan serangan personal sementara kenal saja tidak. Sampai di situ saya sibuk berkerut kening tidak percaya di dunia ini masih ada mahluk yang begitu naif, childish dan tentu saja idiot. Di titik ini saya sadar orang ini tidak bisa diajak diskusi dan segera saya tinggalkan pembahasan tidak mutu itu, apalagi seorang member lain yang juga sudah senior ikut mengingatkan, "anak kecil buat apa diladenin?" Komunitas maya itu masih ada sampai sekarang dan ukurannya bertambah besar tapi semakin saya tinggalkan karena semakin banyak member yang masih anak-anak seperti dia dan semakin jarang member berkualitas dengan cara pikir matang yang bisa berdebat dengan dewasa.
Some people are definitely stupid. Can you be objective? If you want to argue with me then you better meet the following requirements:
1. Logical
2. Rational
3. Emotionless
4. Objective


If one of them is out of your reach then I'm sorry to say that you are not capable enough to be my opponent and I think it'll be better if you go home and learn more and may I suggest you to get the hell out of my way. I have no time to deal with a child.

Monday, April 16, 2007

Take a look at the following scenario:
If someday you go out to a place and you find out that most people there wear white/light color suit while the only person who wear black is you, what are you gonna do?
1. Turn around and going home to change
2. Stay but try to become invisible the best you can
3. Stay and keep cool calm confident like Mr. Bond


I take the last one. It takes courage to say A when the whole world says B. My question: do you have the guts? I know for years we've been taught that being difference is bad but don't you have your own opinion? If we never start to learn to accept differences, I guess we will always be the duck kwek-kwek. The whole world give their respect to the eagle in the sky, not a group of duck near the pond.

Monday, April 09, 2007

Kalau belakangan ini blog ini jarang diupdate maka cuma ada satu alasannya: saya sibuk. Sibuk mengurusi integritas data yang berubah-ubah melulu. Kalau ada yang bilang "don't change the winning team" maka saya bilang "don't change the winning system". Saya termasuk golongan yang kontra mengutak-atik system yang sudah solid dan battle proven. Lebih baik bikin baru dari scratch, dijamin hasilnya lebih greeng.


Saya sibuk dengan puzzle laknat ini. Ampunilah mereka yang membuatnya karena menyebabkan orang kecanduan. Dari kecil saya sudah suka puzzle, it's challenging dan puzzle yang ini berbeda dari yang sudah-sudah. Ketika postingan ini diketik, saya baru sampai level 59 dan belum beranjak dari situ. Stuck? Bukan. Saya tahu betul kemampuan diri saya sendiri dan selama soalnya masih dalam koridor logika, maka tidak ada puzzle yang tidak bisa saya pecahkan.


Masalahnya untuk memecahkannya berarti harus banyak googling dan wiki-wiki dan itu berarti waktu ekstra dan justru itulah yang belakangan ini tidak saya miliki. Gara-garanya? Baca lagi paragraf pertama.


Saya juga sibuk menekuni pekerjaan ala Roy Suryo, apalagi kalau bukan menganalisa foto-foto "natural" lalu berkomentar "itu asli". Bedanya, saya baru sampai tahap pertama dalam menganalisa yaitu memelototi obyek dan kelihatannya saya akan lamaaaaaa sekali di sini.


Terakhir saya juga sibuk menghadiri undangan meeting-tanpa-snack-dan-minuman-dan-selalu-dekat-jam-pulang. Bukan, saya bukan jadi pembicara utama di situ atau jadi tetua yang dimintai nasehatnya tapi semata-mata karena di situ masih ada satu bangku kosong dan rasanya aneh kalau tidak ada yang menduduki, maka jadilah saya diundang.